7.6.16

Ingin Dikenang

"I would
Muhammad Ali
-source
like to be remembered...as a man who never looked down on those who looked up to him, and who helped as many people as he could. As a man who stood up for his beliefs no matter what. As a man who tried to unite all humankind through faith and love. And if all that's too much, then I guess I'd settle for being remembered only as a great boxer who became a leader and a champion for his people. And I wouldn't even mind if folks forgot how pretty I was."


Apa yang dituturkan Ali membuat saya memikirkan kembali tentang bagaimana saya ingin dikenang oleh orang-orang. Dulu sekali saya ingin menjadi seorang fashion desaigner. Lalu seiring bertambahnya usia, berubah pula keinginan saya. Tidak terlalu jauh dari dunia desain-desain, bila di awal tentang fashion, maka selanjutnya saya ingin menjadi desainer interior. Kemudian berubah lagi karena saya tidak lulus di pilihan itu waktu mengikuti UMPTN. Sastra Indonesia bukan pilihan pertama tentu saja. Tapi, paling tidak, Sastra Indonesia yang menjadi pilihan kedua waktu itu adalah pilihan yang telah melalui doa-doa malam saya.

Sesuai jurusan, saya pun mulai belajar menulis. Lumayanlah, beberapa cerpen dimuat di media massa nasional dan ada pula yang masuk sebagai ... Mm... Saya agak lupa istilahnya. Intinya cerpen saya termasuk yang cukup baik dalam lomba cerpen nasional itu dan diterbitkan dalam antologi cerpen. Lalu, saya juga sempat menulis novel pop remaja yang renyah gurih garing dan tidak laku (tidak apa-apa). Tentu saja, keinginan saya kembali berubah. Saya ingin menjadi cerpenis, bukan sastrawan apalagi kritikus sastra (yang seharusnya memang kritikus sastra mengingat jurusan kuliah yang saya ambil waktu itu).



Lalu, begitulah keinginan itu bertumbuh pelan-pelan dan kemudian mati pelan-pelan. Keinginan menjadi cerpenis pun berganti. Saya sempat menjadi editor tetap, redaktur, reporter juga. Dan, kini saya menjadi seorang pengajar di salah satu sekolah internasional yang cukup baik di capital city aka Jakarta.

Waktu terus berjalan tanpa henti, tidak menunggu, apalagi terulang kembali. Kadang terasa tergesa-gesa, kadang terasa tersendat-sendat. Usia pun bergerak tanpa ampun. Saya menua. Dan, semakin tua keinginan saya tidak lagi berkisar dunia luar yang berbau karier, hobi, atau sejenisnya. Keinginan saya kini menuju dunia batin. Saya lebih merindukan kedamaian batin. Keinginan saya pun berganti. Saya ingin menjadi berkat untuk banyak orang. Hal itu membuat saya berpikir bahwa inilah yang saya inginkan. Saya ingin dikenang sebagai orang yang lebih suka menolong daripada ditolong. Orang yang lebih senang memberi daripada meminta. Orang yang lebih senang menebar kasih sayang ketimbang kebencian. Dan, sebagi orang yang selalu menjaga dan menjalani prinsip hidupnya itu.

Namun, kalau semua itu terasa atau dinilai berlebihan, maka saya ingin dikenang sebagai pengajar yang baik, yang mengajar dengan kecintaan dan menyayangi anak didiknya tanpa pengecualian. Masih terasa berlebihan tidak? Yah, semoga saya bisa dikenang seperti salah satu dari sekian banyak harapan yang saya tuliskan tadi.

2 comments :

  1. Kalau kata orang Jawa, "urip iku kung sak dermo ngelakoni". Hidup itu hanya sebatas menjalani. Secukupnya. Keep posting! ☺

    ReplyDelete
  2. Wah, gue juga sering banget nih kepikiran begini. pengen dikenang, dibikin patung, nama gue jadi nama jalan, hari lahir gue jadi hari libur nasional.

    ReplyDelete