8.8.13

Haruki Murakami

Pernah mendengar istilah taylor swift syndrome kan? Istilah itu ditujukan untuk orang yang bisa dengan mudah jatuh cinta dan mudah pula untuk putus cinta. Mudah mencintai seseorang, tapi juga mudah melupakannya. Kurang lebih seperti itulah artinya. Dan, saya punya beberapa teman yang mengidap taylor swift syndrome. Kalau saya sudah mengatakan yang seperti itu, berarti saya tidak terkena syndrome itu kan ya? Jawabannya betul sekali!

Bisa dikatakan saya ini jenis orang yang sulit sekali jatuh cinta. Dan, kalau sudah begitu, bisa dipastikan akan sulit sekali untuk membuang perasaan jatuh cinta tadi. Buruknya lagi, sebenarnya ini buruk atau tidak ya, apapun kekurangan dari seseorang/sesuatu yang saya cintai itu tidak akan menyurutkan rasa cinta saya. Beberapa orang menyebut kondisi ini sebagai fanatik. Mungkin benar juga, pasalnya memang begitulah adanya. Jadi (mungkin) saya memang pecinta yang fanatik. Kira-kira istilah seperti ini benar tidak ya? :D Intinya segala kekurangan dari seseorang/sesuatu yang saya cintai bisa saya terima bulat-bulat dan bukan menjadi masalah. Begitulah.



Agaknya itu jugalah yang terjadi pada karya-karya Haruki Murakami. Saya tidak pernah kecewa dengan karya Haruki Murakami yang saya baca sejauh ini (paling tidak 5 novel sudah saya baca), meskipun beberapa karyanya menuai kritik, bagaimanapun hal itu tidak menyurutkan sedikitpun rasa cinta saya pada karya-karya beliau. Sebut saja Wind Up Bird Chronicle (Nejimakidori Kuronikuru), yang dikatakan kritikus asal Austria (Sigrid Löffler) sebagai novel yang mengumbar pornografi dan merupakan jenis sastra 'cepat saji' yang tidak layak mendapatkan perhatian. Beberapa kritikus lain mengatakan bahwa karya Haruki Murakami memiliki karakter tokoh yang dangkal, gampang ditebak, terlalu condong ke budaya barat bukannya Jepang, dsb.

Apa yang saya jumpai dari karya-karya Haruki Murakami adalah cerita yang tampak sederhana, tapi rumit. Aktivitas dan setting cerita yang biasa saja, tapi bisa terasa berbeda. Bisa tidak membayangkannya? Misalnya saja di Norwegian Wood, tentang kakak Naoko yang bunuh diri dengan cara gantung diri. Bukankah gantung diri adalah cara yang sudah sangat umum dilakukan orang ketika ingin bunuh diri? Tapi, uniknya, Haruki Murakami mampu menampilkan rasa dan nuansa yang berbeda. Dan masih banyak contoh lainnya, saya enggan sharing di sini khawatir jadi spoiler. Ibaratnya memasak mi instan rasa ayam bawang, rasanya pasti begitu-begitu saja kan? Tapi, di tangan Haruki Murakami mi instan tadi diracik sedemikian rupa sehingga rasanya tidak lagi menjadi biasa. Mungkin beliau menambahkan lada hitam atau putih, memberi irisan daun bawang, menyemplungkan lengkuas yang sudah digeprak sebelumnya, terakhir dengan menaburi keju di atas mi yang sudah matang. Mungkin untuk beberapa orang rasanya menjadi sangat aneh atau menyebalkan, tapi saya justru cocok dengan hasil racikan Haruki Murakami tadi. Mi instan yang sederhana, namun terasa berbeda. Bagaimana, sejauh ini sudah mengerti maksud saya? Semoga sudah :D

Bukannya saya tidak menemukan kekurangan dari karya beliau, memang ada, meskipun dengan pengetahuan kritik sastra saya yang tidak bisa dikatakan sangat tajam. Paling tidak saya menemukannya, misalnya pada 1Q84. Novel ini menurut saya agak gendut atau memang terlalu gendut, berbeda dengan novel karya Haruki Murakami yang pernah saya baca. Yeah, mungkin juga karena novel lainnya tadi tidak setebal 1Q84 yang jumlah halamannya mencapai lebih dari 1000 halaman. Kembali lagi, agaknya karena saya yang terlanjur jatuh cinta pada karya beliau, hal seperti itu bukan masalah buat saya. Bagaimanapun novel itu selesai dalam waktu yang cukup singkat, kurang dari 10 hari! Itu pun tidak full karena saya selingi dengan pekerjaan rumah tangga juga pekerjaan profesional lainnya (layout, guru privat, dan drawing). Waktu yang cukup singkat bukan? Itu artinya saya tidak merasa jemu membaca 1Q84 yang kegendutan tadi. Malahan, saya disergap perasaan tak sabar menantikan karya terbaru dari beliau usai membaca 1Q84. Rasanya kalau beliau ada di dekat saya, saya akan merengek-rengek memintanya untuk segera menulis novel baru :)

Berbahaya atau tidak jenis pecinta yang fanatik seperti itu, saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk mempermasalahkannya. Bagi saya yang seperti itu malah lebih banyak memberikan rasa senang ketimbang tidak senang. Saya percaya kalian juga setuju kalau jatuh cinta itu menyenangkan. Karena itu, saya bersyukur dengan keberadaaan seorang Haruki Murakami di dunia ini.

7 comments :

  1. Suka dengan Haruki Murakami ya:?
    Saya juga udah baca yang norwegian wood sama filmnya juga :?D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tentu saja :)
      bgm menurut mas Asep filmnya?
      kalau saya kecewa sekali, mungkin hayalan saya terlalu tinggi ketika membaca novelnya.

      Delete
  2. film sama buku memang suka beda jauh :)

    ReplyDelete
  3. memang kalau dari pengalaman aku sih begitu mba, filmnya mesti kalah jauh sama novel nya. atau itu karena imajinasi kita terlalu bagus dan org2 yg bikin film itu kalah bagus imajinasinya sama kita ya? hahahaa

    ReplyDelete
  4. oooohh ini toh si pria penulis yg namanya sering kmu sebut2 dan ak sllu lupa (susah). good job, jd pengen baca. pdhl ga suka segala sesuatu ttg Jepang, kecuali sushi dan sashimi

    ReplyDelete
  5. saya pernah memiliki pengalaman magis bersama karya Haruki Murakami, saat itu sedang merasa kesal dengan seorang teman, rasanya benci sampai di ubun-unbun, entah mengapa setelah menyelesaikan Norwegian Wood, rasa kesal itu menguap tak berbekas, memang tak ada hubungannya dengan cerita yang ada dalam novel, namun saya percaya membaca adalah cara untuk mengurai emosi dan Murakami memiliki kemampuan dalam mengolah kata membuat pembacanya terjebak dalam labirin pemikirannya..

    ReplyDelete
  6. wooh bbaru tau aku Haruku Murakami itu ~ kereeeeeeeeeen

    ReplyDelete