5.4.11

short story: lidya

gambar dari sini

"kami dulu pacarannya long distance. cuma 2 bulan jalan, abis itu dia dapat kerja ke luar kota." kata lidya mengawali cerita cintanya. efek dari LD ini, membuat lidya tak punya pilihan selain surat-suratan (waktu itu belum jaman hape ato email). sampai-sampai, katanya, dia diledekin teman-temannya, pacaran kok sama surat. begitulah lidya, dia sering datang membawa cerita cintanya yang manis lalu pergi dengan hati senang tak terbendung.

dua tahun kemudian, setelah acara LD yang panjang itu, si pria kembali dari luar kota. mereka memutuskan untuk menikah. awal menikah, lidya senang bukan kepalang. lewat setahun, dia mulai murung. pasalnya apa? ternyata karakter si suami tidak semanis dan seindah surat cintanya. masuk tahun kedua, lidya makin murung. "ternyata begitu sifat aslinya." katanya waktu itu mengawali cerita muram rumah tangganya.

lidya tidak pernah menyangka kalau suaminya yang minta ampun manisnya (di surat) itu ternyata jenis laki-laki manja. si suami lebih doyan hidup dari hasil kerja keras si istri. harus selalu disiapkan makanan dan minuman, kalau tidak si suami ogah makan/minum. duit yang dijatah si istri sering habis tak tepat waktu. si suami ini bahkan sering mencibir bermacam side job si istri. padahal, nantinya side job itu jugalah yang menghidupi mereka.

"gaji dia itu kecil. mana cukup buat ngasih makan aku sama putra. nggak usah gitu, wong buat makannya sendiri aja nggak cukup." sungut lidya suatu ketika sambil memegang tangan kecil putra, anak pertamanya. begitulah lidya. dia sering datang membawa kisah muram rumah tangganya lalu pergi dengan harapan-harapan baru. harapan bahwa suatu ketika si suami akan berubah. berubah dengan hadirnya putra, anak pertama mereka.

suatu ketika, hujan turun teramat kencang. saya lupa mengambil keset kaki yang saya jemur di pagar. ketika saya membuka pintu, ternyata di sana sudah berdiri lidya. matanya merah, air matanya tercampur air hujan. "saya benci sama dia, anak sudah dua, tapi masih saja begitu." kata lidya terpatah-patah. aku menyilakannya masuk. menyuguhinya segelas cokelat panas. mengalungkan handuk ke bahunya. lidya tersenyum di tengah isak tangisnya. itu terkahir kali lidya berbagi kisah muramnya. besok dan besoknya lagi tak terdengar kabar darinya.

lidya, teman yang saya kenal dalam perjalanan kereta dari jogja menuju jakarta. waktu itu, ketika saya menaruh ransel dan menjatuhkan pantat saya di bangku, saya mendapatkan senyum manis lagi polos dari lidya yang duduk di depan. "mau ke jakarta?" katanya. lalu kami bercerita, terus bercerita sampai salah satu pemungut karcis itu berteriak, "senen! yak, yang senen.. yang senen!"

lima tahun merayap pergi setelah lenyapnya lidya. saya masih ingat dia. saya rindu senyum manis lagi polos itu. sejujurnya, saya tak pernah jemu mendengar ceritanya. dia selalu mengingatkan saya pada anak kecil yang begitu bersemangat bercerita tentang keinginannya merampas matahari, menaklukan kutub utara, mengungguli ketenaran einstein, dan menemukan nirwana bersama sidharta gautama. yah, begitulah lidya, perempuan polos dengan senyum manis. apakah dia berhasil mengubah si suami? ah, lidya kapan kau akan membagi ceritamu lagi denganku? sungguh, aku tak jemu.

ps: cerpen singkat. saya tulis dalam waktu 15 menit :D

7 comments :

  1. wah2....lg musim nostalgila kayaknya...ngga km ngga enno...wkwkwkkwkw...trus skrng gag tau kabarnya lidya? kasian bgt :(
    anyway, uda sembuh ya may?

    ReplyDelete
  2. lovely blog♥
    follow me ?.
    love, poppy xoxo

    ReplyDelete
  3. xixixixi...

    hayoooo mari bernostalgia!

    ceritanya bagus, dan mengingatkan aku sm seorg teman yg nasibnya sama. Lalu dia akhirnya memutuskan bercerai....
    tapi mudah2an kisah Lidya sih happy ending ya may :)

    ReplyDelete
  4. i want to declare that I'm ur biggest fans. keep writing :)

    ReplyDelete
  5. glo & enno : hehehe.. ini cuma cerita kok. bukan yg sebenarnya =)) berasa nyata ya :D
    tapi klo lidya nyata, aku jg tak bakal jemu mendengarnya bicara :)

    okto: thank so much, u realy sweet :)

    poppy: ok dear, as u wish :)

    ReplyDelete
  6. tegas banget sih, ga perlu panjang lebar udah tergambar, sampe2 terpedaya antara khayal dan nyata hahaha.. cerita nya bagus tik (or may?)

    ReplyDelete
  7. hey, ada sondi tyt. sbnrnya mo dibikin panjang, tp kuatir tar temen2 blog jd pada ngantuk, hihihi. tika ato maya, sm ajalah :)

    ReplyDelete