18.12.10

majalah intisari: opung doli dan cerita kriminal (part 1)

majalah intisari identik dengan opung saya. entah kenapa. tiap kali melihat majalah itu, otak saya selalu memvisualisasikan opung doli saya. ah ya, mungkin buat kawan yang bukan berasal dari batak merasa tidak familiar dengan istilah opung doli. opung adalah sebutan untuk kakek sedangkan kata doli berarti laki-laki . 

opung doli saya itu sudah mangkat sejak seragam merah putih saya gunakan selama 4 tahun. beliau pergi pada usia 63 (atau 66). dengan aroma minyak tawonnya yang khas, suaranya yang keras, matanya yang tegas, dan kalimatnya yang lugas, ia mengenalkan saya pada majalah intisari. majalah yang berukuran (kurang lebih) 13x19 cm itu terletak di meja kerjanya. tidak berdebu. majalah itu rebah dengan tenang di atas meja kerja opung doli. melihat majalah itu, saya yang waktu itu berusia 6 tahun langsung tertarik. jelas bukan pada isi majalah, saya tak paham apapun tema yang ditulis di intisari saat itu. saya tertarik pada ukurannya yang kecil dan gampang saya pegang. biasanya majalah selalu dalam ukuran lebar dan panjang seperti kartini.
selanjutnya, lembar demi lembar saya balik. sampai akhirnya mata saya tertumbuk pada rubrik cerita kriminal. saya membacanya pelan-pelan, maklumlah saya baru bisa membaca. dan, lagi-lagi, saya langsung tertarik. 

cerita kriminal itu masih lekat di otak saya hingga kini. ceritanya tentang istri yang berhasil membongkar rencana pembunuhan terhadap dirinya sendiri. siapa pelaku kejahatan itu? tidak lain adalah suaminya sendiri. si suami memasukkan racun ke selai strawberi kesukaan si istri yang tengah mengidap kanker akut. si suami ingin membunuh istrinya pelan-pelan. tidak ada konflik dalam rumah tangga mereka. pemicunya adalah perempuang simpanan si suami, itu pun baru diketahui belakangan sekali ketika diselidiki polisi. tanpa penyelidikan itu, si istri tidak akan pernah tahu motif si suami yg berencana membunuhnya karena memang si suami selalu bersikap manis.

cerita itu begitu fenomena buat saya. pertama, tentang kehebatan sang istri yang mampu membongkar rencana pembunuhan. kedua, si istri bahkan melihat si suami dijatuhi hukuman seumur hidup. ketiga, si suami yang terlalu tega untuk membunuh si istri. musuh dalam selimut, begitulah kira-kira istilah yang cocok untuk si suami.

sejak saat itu, saya selalu mengincar majalah intisari tiap kali berkunjung ke medan (saya tinggal di siantar). intisari menjadi bacaan wajib saya tiap kali ke medan sampai akhirnya opung doli saya menutup mata untuk selamanya. hubungan saya dengan intisari lantas terhenti dalam waktu yang cukup lama. atau bahkan sangat lama, mengacu pada ukuran saya tentunya.

11 tahun kemudian saya kembali terdorong untuk membeli intisari. saya kembali membacanya, membaca rubrik yang membuat saya pertama kali jatuh hati pada intisari: cerita kriminal. tenggang waktu yang puluhan tahun itu tidak mengubah banyak hal dalam wajah intisari. ia masih beraroma minyak tawonnya opung doli dan cerita kriminal yang cerdas dan memikat. memang ada beberapa rubrik baru, tapi rubrik lama tetap dijaga. membaca kembali intisari membuat saya memutuskan bahwa majalah ini merupakan salah satu majalah berkualitas yang wajib dikoleksi.

2 comments :

  1. opung itu nulisnya ompung apa opung gt aja sihh? deuhhh...jd bingung....mama bilang nulisnya ompung bacanya aja opung

    ReplyDelete
  2. bener mama kamu glo, nulisnya ompung bacanya 'opung'

    ReplyDelete