23.10.10

alay alay lumut

sesadar dan seingat saya, istilah alay baru saya kenal dua tahun belakangan ini. lebih kurang begitulah. saya memang baru mengenal istilahnya, bukan berarti saya baru mengenal macam apa jenis anak2 alay itu. pada dasarnya mereka sudah ada sejak, hmmm... entahlah saya tidak sempat mendata. kira-kira aja deh ya, sekitar 5 tahun ini. dan yang pasti, anak alay itu adalah anak2 yang suka berlebihan, norak, sok ngartis, sok up to date, sok gaul, sok.. sok.. okey, intinya sok2 yg banyak deh. dan kesimpulannya mereka sama sekali tidak keren. ya iyalah, namanya aja udah sok2an..-.-"

saya kasih contoh anak alay nih ya, kalo nulis sms atau apa aja deh pokoke nulis mereka suka ganti2 huruf dengan angka atau tanda baca dan huruf kapital yang diletakkan semaunya. contohnya: @kuh sangadh saiank Qmuh (aku sangat sayang kamu), 4kiu 8enc1 8an9edH ma yu (aku benci banget sama kamu), c1nt4kuh cum4 8wat Qmuh (cintaku cuma buat kamu), n so on. saya sudah tidak sanggup ngasih contoh lainnya. perut saya mual...:D
kalau kalian mau nerusin, ya silakan, hehhee..


nah, itulah yang disebut dengan anak alay. itu baru dari segi bahasa ya. nah, kalo dari segi penampilan? daripada saya ribet menjabarkannya, saya kasih contoh aja ya yang gampang kamu searching tar di google. mereka yang saya maksud adl rindu band aka KANGEN BAND, dan masih banyak lagi lainnya. lagi2 saya tidak sanggup nerusin contohnya. untuk kasus ini, saya khususkan ke masalah bahasa aja ya, bahasa alay. kenapa? karena saya amat sangat terganggu (sebenarnya) ketika membuka fb, twitter, plurk, dan jejaring sosial lainnya dan membaca mereka meng-update status atau sekadar komen2 dengan bahasa naudzubilah 'keren' banget itu...-.-"


yah, migren saya kambuh, maag saya juga kambuh, mood saya juga terganggu. intinya anak2 alay itu bikin kesal banget. saya sampai tidak habis pikir dimana letak ke KEREN an yang mereka maksud lewat bahasa dan tampilan alay macam itu. saya sangat jengkel sampai akhirnya 2 hari yang lalu saya diundang ke seminar bahasa dan sastra di USD, jogja. temanya lebih kurang transformasi bahasa dalam kaitannya dengan masyarakat dan kaum muda Indonesia. awalnya saya males banget datang ke seminar itu, lihat nama2 pembicaranya (menurut saya) yang biasa saja cenderung tidak begitu saya kenal atau berpengaruh dalam hidup saya. tapi, berhubung udah diundang dan karena rektor USD juga ikut ambil bagian, saya pun berangkat.


seminar dimulai, saya ogah2an mendengar sambil baca2 makalah para pembicara yang membahas masalah bahasa di media massa, televisi, dan dunia maya (jejaring sosial). bahasa alay juga dibahas. semua masih terasa biasa saja sampai akhirnya tiba di sesi tanya jawab. seorang ibu bertanya begini: apakah bahasa alay itu termasuk bahasa Indonesia? pertanyaan ini ditujukan ke salah satu pembicara yg menulis makalah tentang bahasa alay tadi. ajaibnya, si pembicara justru secara implisit ingin mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah bhs alay itu termasuk bhs Indonesia. ajaib kan? pembicaranya gitu loh. saya makin bete sampai akhirnya si moderator melemparkan pertanyaan ke Dr. I Dewa Putu Wijana yang juga tamu undangan. beliau dengan santai tapi lugas menjawab YA, BAHASA ALAY ADALAH BAHASA INDONESIA. bahasa alay termasuk dalam ragam bahasa Indonesia dan memiliki pola bahasa. dan, tidak perlu khawatir dengan bahasa alay karena dia akan hilang atau terkikis seperti bahasa slang yang sempat booming di Indonesia (kira2) 15 tahun yang lalu.


saya terkesima sekaligus tersadar dengan jawaban pak putu. saya lantas merasa jadi orang picik dan tidak dewasa. iya, bahkan cenderung merasa malu karena menanggapi kaum alay secara berlebihan. bukankah saya sempat hidup di era kaum slang, yang juga sempat saya gemari. dan bisa jadi orang lain merasa muak dengan saya yang menyukai slang ketika itu. 
saya pulang dari seminar dengan dua kelegaan dan satu penyesalan. pertama, saya tidak lagi memandang kaum alay dengan sinis. kedua, saya lega karena masa kaum alay nantinya juga akan berakhir. semoga kawan yang membaca tulisan ini juga mau berlapang dada dengan kaum alay. atau malah udah dari dulu bisa menerima kaum alay (dan bergabung dengan kaum alay)...:D dan satu penyesalan itu adalah karena tidak pernah mendapat mata kuliah yang diasuh pak putu ketika kuliah kemarin di FIB UGM. yah, karena saya mengambil sastra sementara si bapak linguistik...:D


5 comments :

  1. bahasa ikut berkembang sesuai dengan masyarakat penuturnya, so...gak ada penghakiman salah dan benar dalam bahasa. yang ada adalah sesuai atau tidak sesuai (dengan konteks)...

    ReplyDelete
  2. hedeh.. elu jg sengak sm kaum alay. itu udah gw jelasin kan soal konteks...:p

    ReplyDelete
  3. hihihi sapa jg yg gak sengak sm mereka :p di mana2 4L4y e... ya gitulah fenomena bahasa :D

    ReplyDelete
  4. ane gk sengak lg tuh. biasa aja..:p

    ReplyDelete
  5. tambahan nihhh...menurut pengamatanku biasanya yang pake bahasa alay tuh yg ababil gt kak...soalnya jaman aq abege jg pernah alay sihh....xixixiixixi.....ah ya, pantes aja ya bahasa indonesia jd bahasa nomer 3 tersulit didunia (aq pernah baca rank nya di yahoo), jelas aja, lah tiap ytahun ada kosakata baru sih kayak "cenat cenut" itu juga kan bahasa alay to? xixixixixi

    ReplyDelete