6.7.16

Eid Mubarak

Tanpa berpanjang-panjang, saya ingin menyampaikan Selamat Idul Fitri untuk teman-teman yang merayakan. Semoga hati kita semakin dipenuhi kasih pada sesama :)

source

28.6.16

Bahas BARASUARA

source
Libur sekolah tiba itu artinya me time. Apa saja yang sempat tertunda akan saya (usahakan) bayar tuntas di liburan kali ini. Salah satunya adalah menekuni lagu-lagu dari band rock BARASUARA. Album perdana mereka yang diberi judul TAIFUN adalah album yang sempurna. Terdiri dari 9 lagu yang tanpa cela. Semuanya benar-benar seru, keren, asyik!

Memang benar saya bukan kritikus musik. Apalah saya ini, saya hanya butiran debu yang akan
berlalu, terlupakan, dan terbang entah kemana. Jiahhh. Tapi, saya punya selera musik yang asyik.
Asyik menurut siapa sodara sodara? Ya menurut saya dan pecinta musik asyik lainnya. Contoh musik asyik menurut saya, yang mewakili saja ya, kalau semua ditulis tidak cukup ini postingan. Beberapa itu, misalnya, FLOAT, POLKA WARS, SCALLER, BAYU RISA, STARS AND RABBIT, THE BEATLES, BOB DYLAN, BLUR, PRINCE, MICHAEL JACKSON, LED ZEPPELIN, DAVID BOWIE, NIRVANA, RADIOHEAD, PEARL JAM, REM, dan list lagu-lagu di novel Haruki Murakami. Ini sebagian saja lho, ya.

Ya seperti makanan, musik buat saya seperti makanan yang kalau memang tidak enak ya saya bilang tidak enak. Kalau enak ya pasti saya lanjut makan tidak dilepeh. Lepeh, bahasa apa itu? Kalau orang batak macam saya ini pasti kurang familiar. Ya elu mau cari di KBBI juga kagak bakal nemu. Lepeh ini kata yang berasal dari bahasa Sunda. Kata ini lalu menjadi familiar di daerah sekitarnya termasuk di Jakarta, tempat saya tinggal. Ya gitu, jadi kalau dalam bahasa Indonesia kata yang sepadan dengan lepeh  adalah ‘dimuntahkan’.

Cukup ya sama si lepeh. Kembali ke BARASUARA. Kenapa saya pakai caps lock gini ya ngetik nama band-nya. Ya nggak papalah, anggap saja sebagai bentuk atau makna kerennya band rock ini. Nah, jadi, ada 9 lagu di album ini dan semuanya asyik, keren! Musik mereka unik, bukan baru ya. Tidak ada yang baru under the same sun kalo kata Scorpion. Uniknya si BARASUARA menurut saya (ingat ya, saya bukan pengamat musik yang mumpuni, saya cuma orang yang punya selera musik yang asyik) bahwa musik mereka kuat, namun dalam waktu yang bersamaan juga terasa sensual. Gagah, namun tetap indah.

Lagu-lagu di album TAIFUN tidak ada yang tidak enak didengar. Meski begitu, tentu saja ada yang menjadi favorit saya. Sendu Melagu, Bahas Bahasa (sudah barang tentu), Api dan Lentera, dan Menunggang Badai. Vokal Iga yang cuek dan tak terlalu bagus, jatuhnya malah keren. BARASUARA bisa jadi tidak terlalu ramah untuk didengar, tapi masih mudah untuk dicerna. Mendengarkan TAIFUN membuat saya merasa menemukan apa yang selama ini saya cari/rindukan. BARASUARA memberi pengalaman baru. Pengalaman baru yang menyenangkan. Seru sekali dan rasanya ingin terus diulang, diulang, dan diulang. BARASUARA, terima kasih untuk musik kalian!

Sebagai penutup postingan yang cukup panjang ini, padahal tadinya saya ingin menulis dengan singkat saja. Tapi, memang sulit menulis BARASUARA dengan singkat. Di sini saya lampirkan lirik dari salah satu lagu favorit saya dari album TAIFUN.

Sendu Melagu (Iga Masardi)

Semua yang kau rindu
Semua menjadi abu
Langkahmu tak berkawan
Kau telah sia siakan
Waktu yang kau tahu
Waktu yang berlalu
Ingatmu kau merayu
Ingatnya kau berlalu
Sendu melagu


BARASUARA adalah Iga Massardi (vokal & gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal), dan Puti Chitara (vokal).

7.6.16

Ingin Dikenang

"I would
Muhammad Ali
-source
like to be remembered...as a man who never looked down on those who looked up to him, and who helped as many people as he could. As a man who stood up for his beliefs no matter what. As a man who tried to unite all humankind through faith and love. And if all that's too much, then I guess I'd settle for being remembered only as a great boxer who became a leader and a champion for his people. And I wouldn't even mind if folks forgot how pretty I was."


Apa yang dituturkan Ali membuat saya memikirkan kembali tentang bagaimana saya ingin dikenang oleh orang-orang. Dulu sekali saya ingin menjadi seorang fashion desaigner. Lalu seiring bertambahnya usia, berubah pula keinginan saya. Tidak terlalu jauh dari dunia desain-desain, bila di awal tentang fashion, maka selanjutnya saya ingin menjadi desainer interior. Kemudian berubah lagi karena saya tidak lulus di pilihan itu waktu mengikuti UMPTN. Sastra Indonesia bukan pilihan pertama tentu saja. Tapi, paling tidak, Sastra Indonesia yang menjadi pilihan kedua waktu itu adalah pilihan yang telah melalui doa-doa malam saya.

Sesuai jurusan, saya pun mulai belajar menulis. Lumayanlah, beberapa cerpen dimuat di media massa nasional dan ada pula yang masuk sebagai ... Mm... Saya agak lupa istilahnya. Intinya cerpen saya termasuk yang cukup baik dalam lomba cerpen nasional itu dan diterbitkan dalam antologi cerpen. Lalu, saya juga sempat menulis novel pop remaja yang renyah gurih garing dan tidak laku (tidak apa-apa). Tentu saja, keinginan saya kembali berubah. Saya ingin menjadi cerpenis, bukan sastrawan apalagi kritikus sastra (yang seharusnya memang kritikus sastra mengingat jurusan kuliah yang saya ambil waktu itu).

30.5.16

Memulai Kembali

Quote ini paling tepat untuk menyempurnakan tulisan ini :D
-source-
Juni sebentar lagi, artinya setengah tahun sudah blog ini terabaikan. Padahal, sebelumnya saya berjanji untuk kembali dalam dunia per-blog-an. Apa daya, janji tinggal janji dan saya merasa menjadi manusia yang, tentu saja, tidak bertanggung jawab. Wah, bukan perasaan yang menyenangkan pastinya.

Ada beberapa alasan, misalnya waktu yang padat, tidak ada ide, dan perasaan bahwa semakin lama kemampuan menulis saya terasa makin tumpul. Saya merasa malu pada diri sendiri, selain merasa tidak bertanggung jawab juga sih.

Sejak awal membuat blog, saya memang mengarahkan blog ini ke gaya diary: mencatat hal sehari-hari yang terkadang (agak) penting, terkadang tidak (terlalu) penting. Meskipun, terkadang, saya menulis cerpen juga sih di sini. Dengan menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal, supaya blog terkesan santai. Saya juga berusaha untuk jujur dalam setiap tulisan. Tapi, ternyata, jujur itu tidak mudah. Bukan berarti postingan di blog ini palsu semua. Jujur dalam artian memilih topik yang ditulis. Sering kali sebenarnya ingin menulis A, tapi yang ditulis malah topik B. Terkadang ada berbagai pertimbangan sehingga akhirnya bukan topik A yang muncul melainkan topik B. Mungkin saya terlalu khawatir padahal sih harusnya tidak perlu ya.

Saya ini sedang bicara apa sebenarnya. Ya sudahlah, anggap saja ini sebagai warm up sebelum nantinya saya akan (berusaha) rajin menulis lagi di blog ini. Bagaimanapun kalian setuju kan kalau menulis itu penting? Atau, malahan, penting sekali?